Home » » Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok Timur NTB

Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok Timur NTB

Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok Timur NTB | Ini adalah Sebuah Cerita Rakyat dari Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, NTB. Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.

batu golog dari desa padamara, lombok timur, NTB - http://munsypedia.blogspot.com/Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk."

Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.

Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.

batu golog dari desa padamara, lombok timur, NTB - http://munsypedia.blogspot.com/Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.

Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.

("Batu Goloq," Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal. 21-25).

LIKE JULUK METON....

SELENGKAPNYA >> LIAT YANG LEBIH LENGKAP, SILAHKAN KLIK DISINI..!!
Share this article :

4 komentar:

  1. cerita lokal yg lebih mirip tahayul, pesan moralnya apa ya cerita dari orang tua kita ini? gak ngerti sy

    BalasHapus
  2. Pesan moral dari cerita tersebut banyak sekali salah satunya adalah kerja keras dari orang tua mencari penghasilan yang halal:Menumbuk padi dalam bahasa Sasak "nujak".Orang-orang kaya yang punya banyak banyak padi sangat membutuhkan jasa penujak ini.Biasanya setiap sepuluh cekel mendapat upah satu cekel. satu cekel adalah gabungan dua rerek yang diikiat menjadi satu. Orang yang nujak melakukan beberapa proses hingga padi menjadi beras: (1) belulut: mempersiapkan tempat berepak.(2) Repak:kegiatanmemotong padi dari cekelan dengan menggunakan alat dendeng(alat pemukul dari bambu khusus yaitu tereng dendeng) (3) nempik:kegiatan membersihkan hasil repak (4) Belisung:measukkan padi yang sudah ditempik ke dalam geneng (lisung terbuat dari kayu lekong (Kemiri) dan menumbuk dengan alat anakalung (alat penumbuk dari kayu yang berat) (5)Ngeloak:proses menumbuk hasil belisung dan dibersihkan dengan nempik (6) Ngeletin: proses pembersihan pertama untuk menghasikkan bulir padi dengan alat geneng(lesung) dan anakalung (alu) (7) Ngelesoh:proses pembersihan kedua menghasilkan bulir padi dengan alat geneng(lesung) dan anakalung (alu) (8) Ngindang :proses membersihkan bulir padi ketiga dengan nyiru (alat menampi)

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum,,,cerita ini pernah saya dengar langsung dari tetua asal cerita, pesan moral yang paling tajam dalam cerita ini adalah sebagai orang tua bagaimanapun sibuknya dalam mencari nafkah jangan pernah mengurangi perhatian terhadap anak, karena jika itu tejadi maka anak2 tersebut akan menjadi anak yang terkontrol,,untuk apa harta banyak kalau anak menjadi seperti itu,,untuk penulis ceritanya sudah bagus tapi sebelum menulis tidak ada salahnya mencari info tambahan tentang cerita atau asal cerita,,,contoh Gembong itu bukan desa tapi masih berstatus Dusun

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

FOLLOW Juluk Meton...!

Daftar Artikel Terbaru Kami ▼

SEMETON LOMBOK 'LIKE' GIH..?

http://munsypedia.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : munsypedia | uniclopedia | metaforma
Copyright © 2013. Lombok Cyber4rt - All Rights Reserved
Kontak kami Di Twitter atau Facebook
Blog Ini Di Poskan Oleh Kanak Sasak